Tuesday, October 11, 2011

Perjalananku Menuju Toraja bersama Sepeda Jelajah Nusantara Seri IX (Bagian 1)


Kamis 15 Oktober 2009 pagi dari Bandara Internasional Minangkabau Padang saya bertolak menuju Bandara Sukarno Hatta, sesampai di sana sambil menunggu teman-teman lainnya untuk bergabung guna melanjutkan perjalanan ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar saya bertemu dengan teman satu rombongan om Nafi Besari dari Bandung beberapa teman lainnya. Setelah semua rombongan berkumpul maka kami melakukan boarding bersama-sama.

Malamnya kami sampai di Makassar dan diantar ke hotel tempat menginap, sesampai di hotel diadakan briefing singkat untuk persiapan besoknya ngak boleh santai karena setelah itu langsung melakukan perakitan sepeda yang akan di gunakan keesokan paginya.

Jumat 16 Oktober pukul 06.00 sebanyak 40 peserta, saya bersama teman-teman  dari berbagai wilayah nusantara dan satu orang warga Polandia mulai berbenah diri untuk menaklukan rangkaian trek sepanjang 200 km yang direncanakan berlangsung 5 hari, dimulai 16 Oktober dan akan berkhir 20 Oktober 2009. Ini untuk pertama kali saya melakukan perjalanan bersepeda di luar Sumatera Barat dan saya peserta satu-satunya yang berasal dari Sumatera Barat.

Rute sepanjang 200 km tadi membentang di lima wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan, disisi kiri dan kanan rute yang kami lalui terhampar pemandangan yang sedap dipandang, sesuai dengan konsep eksplore wisata sambil menggowes sepeda peserta SJN juga menikmati keindahan alam yang akan dikunjungi, termasuk menyantap makanan daerah setempat yang tentunya lezat.

HARI PERTAMA

Pukul 07.00 Wita semua peserta dengan wajah girang berkumpul di starting point, di Desa Tompo Bulu Kabupaten Jeneponto. Tangan sudah di handelbar sepeda siap untuk memulai gowesan pertama,  di hari pertama ini sepeda akan digowes sejauh 40 km dengan 50% off road dan 50% on road.

Bendera start dikibas, sepeda meluncur dan senyum belum lepas dari bibir peserta, namun senyum itu tidak bertahan lama karena didepan sudah menanti tanjakan panjang, "Wah langsung panas nih" dalam hati sambil terus menggowes, untungnya jalan menanjak tersebut merupakan aspal yang mulus jadi peserta belum begitu tersiksa, bahkan menjadi ajang pemanasan bagi peserta.




Semangat semakin menyala melihat wajah penduduk yang berjejer dikiri kanan jalan, mereka seperti terheran-heran melihat rombongan 40 pesepeda bergerak bersama. Baru kali ini desa mereka dilewati rombongan bersepeda dalam jumlah besar. Dan saat melintas di sebuah SD, siswa disekolah itu serentak keluar dan memberikan lambaian kepada kami.

Tetapi hukum alam dalam bersepeda masih berlaku di Sulawesi Selatan : setelah tanjakan pasti ada turunan, setelah lelah mendaki pasti senang menurun. Inilah kemudian yang terjadi didepan jalur mulai menurun dan rombongan meluncur dengan tetap konsentrasi karena kontur trek yang berupa tanah berbatu kerikil. Turunan ini cukup membuat kaki beristirahat setelah didera kelelahan selama melibas tanjakan tadi.

Tetapi istirahat sessungguhnya baru terjadi ketika waktu shalat Jumat tiba, kami melakukan shalat Jumat bersama warga setempat. Usai Jumatan dengan lebih segar dan tenaga baru kami menuju  Loca Camp, disana sudah menanti Bupati Bantaeng HM. Nurdin Abdullah bersama pejabat lainnya yang akan ikut dalam rombongan.

Loca Camp adalah tempat wisata outdoor, lokasinya strategis, berada di ketinggian bila kita melihat kebawah tampaklah kota Bantaeng wilayah ini merupakan penghasil sayur mayur dan srawberry karena berada diketinggian sehingga tanaman tumbuh subur. Dari sini peserta dan rombongan Bupati meluncur ke kota Bantaeng. Karena ini merupakan turunan maka sepeda peserta melesat tanpa perlu mengeluarkan tenaga apalagi jalannya mulus tapi perlu kewaspadaan ekstra karena jalan yang berliku-liku.

Sampai di kota Bantaeng jam menunjukkan pukul 13.30, yang merupakan tujuan akhir trek hari pertama. Disini kami mengunjungi rumah adat Balla Lompoa dan situs purbakala yang ada dikota ini. Akhirnya sampailah di meja hidangan, soto daging kami santap dengan lahap, belakangan baru kami tau kalau soto daging yang kami santap tadi merupakan daging kuda.



Setelah itu rombongan beranjak menuju rumah dinas Bupati Bantaeng, bak rombongan terhormat kami disambut tarian selamat datang yang ditarikan oleh sekelompok anak. Disini kami beristirahat dan diadakan acara resmi penyambutan oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan dijamu lagi dengan makanan khas daerah.

Penutup acara bersama Bupati kami mengadakan penanaman pohon di halaman depan rumah dinas Bupati sebagai bentuk kepedulian SJN terhadap lingkungan hidup.

No comments:

Post a Comment